Lebih cinta putih abu-abu

Sehari sudah lewat

Jalani hidup yang katanya sekarang aku adalah masyarakat. Ah bukan hanya aku. Tapi kami.

12 tahun menjadi pelajar? HAHA(!) mudah. Ya mudah. Mungkin ada yang menganggap itu sulit. Tapi bagiku tidak. Karena aku berpikir kata ‘sulit’ itu muncul dilihat dari segi kurun waktu.

Ohh.. Jadi seperti ini ya menjadi masyarakat pemula?

Ketika kau ingin menjadi mahasiswa, katanya selamat datang dikehidupan kampus yang lebih berat.

Ketika kau ingin mencari kerja, katanya siap-siap menjadi pengangguran.

Haha kita memang bodoh jika dulu pernah ingin cepat selesai menjadi pelajar.

Sekarang, Aku lebih cinta putih abu-abuku.

Tidak apalah berpacu dengan tugas sekolah, tidak apalah di ikat dengan berbagai aturan, tidak apalah berdesak-desakan dikantin sekolah, tidak apalah susah move on setiap hari melihat wajah sang mantan (eh), ya.. Tidak apalah.

Sebab akhir-akhir ini, moment sekecil apapun akan menimbulkan rindu yang berkepanjangan.

Ahad, 6 mei 2018. Bukan puisi. Ceritanya rindu genuvorđź’™

Iklan

Mereka aneh

Orang-orang itu aneh..

Mereka mengaku mencintai hujan..

Tapi berteduh dikala gerimis.

Mereka mengaku mencintai hujan..

Tapi sakit ketika basah.

Mereka mengaku mencintai hujan..

Tapi berpayung ketika keluar.

Mereka mengaku mencintai hujan..

Tetapi tidur dan bermalas-malasan ketika hujan, tanpa menikmatinya.

Ya. Mereka mengaku mencintai hujan..

Tapi berjaket ketika hujan..

Dan yang terjadi malah sebaliknya.

Mereka menikmati pelangi selepas hujan,

mereka menghirup udara segar selepas hujan,

mereka bersyukur tanaman subur selepas hujan,

mereka berlarian bahagia selepas hujan,

mereka kembali beraktivitas selepas hujan..

Padahal mereka mengaku mencintai hujan.

Tibawa, 30 Maret 2018.

Hilang

Ada sesuatu yang hilang.

Saat hujan turun begitu derasnya malam ini.

Namun dia hilang bukan karena hujan. Tapi karena perdebatan panjang yang seharusnya tidak mampu menghancurkan cinta.

Sayangnya hal itu mampu merobek sebuah kisah.

Aku tidak paham betul dengan pola pikirmu.

Tapi jika kamu memang ingin hilang, itu urusanmu.

Yang jelas aku disini, tidak pernah hilang, bersama luka yang mulai terobati, bersama rindu yang masih bermain.

Aku murka pada cemburu

Jangan pernah kau ucap kata cemburu..

Aku sangat sensitif akan hal itu.

Sebuah kata yang mampu merubah segala kebahagiaan yang tengah aku nikmati

Sebuah kata yang mampu merusak kenyamananku

Aku benci cemburu. Aku tidak suka dengan cemburu. Aku murka pada cemburu…

Tidak. Jangan usik lagi hatiku.

Kau tau, ada sesuatu yang lebih sakit dari patah hati,

Kau tau, ada sesuatu yang lebih pahit dari luka hati,

Ya! Dialah cemburu. Cemburu yang tak pernah ku undang, namun mendapat tuntutan dari sang kekasih.

Selamat datang kenangan

Selamat datang kenangan..

Setelah sebelumnya kau adalah kisah nyata yang selalu ku rindukan setiap pagi.

Selamat datang kenangan..

Sebab sebelumnya kau adalah realita yang selalu membuat aku ingat di tiap siang.

Selamat datang kenangan..

Memang sebelumnya kau adalah cerita indah yang membuat aku tak ingin lupa di setiap sore.

Selamat datang kenangan..

Kamu tau, kau adalah cerita yang membuat aku tetap terjaga disetiap malam.

Ya. Selamat datang kenangan..

Kau adalah kisah indah penuh makna yang tak pernah ingin ku lupa, Tak pernah ingin ku tinggalkan, tak pernah ingin ku buang.

Selamat datang kenangan. Aku tau sekarang kau tak lebih dari sebuah kenangan. Silahkan menari di otakku. Silahkan acak-acak diriku kenangan. Silahkan. Sebab kau adalah kenangan yang paling aku cintai.

15:30, 08 Maret, 2018

Pergi

Kamu sakiti, aku disini

Kamu lukai, aku disini

Kamu tinggalkan, aku disini

Kamu kembali, aku masih disini

Entah mengapa.

Jika boleh jujur susah bagiku untuk beranjak. Sebab apapun yang terjadi aku akan menengok kembali padamu

Hingga pada saat ini…

Kamu lukai lagi aku masih disini. Kamu sakiti lagi aku masih disini

Aku kecewa, aku tak pergi

Aku terluka, aku tak pergi

Aku lelah, tapi tak menyerah.

Kamu meminta aku untuk pergi? Aku tak akan pergi. Dan akhirnya.. Kamu pergi.

Baiklah. Aku pergi.

Gorontalo, 08 maret 2018

Puisi untuk pembenci

Ini aku.. Gadis kecil dari ayah dan ibuku.

Jangan menyakitiku. Aku memang pendiam, mungkin baik pula. Kalian pikir aku tak berdaya? Jangan salah.. Ketika aku enggan. Aku bisa saja memberontak.

Aku punya ayah. Bukan seorang polisi atau tentara, tapi Ayah yang bisa menembak kepalamu sampai mampus jika kau berani menyakiti putrinya.

Aku punya ibu. Ibu yang maha lembut. Ibuku bisa menghipnotis kalian kalian yang sudah menyakitiku. Kelembutan beliau bisa membuat kalian menyesal telah menyakiti putri dari seorang bidadari baik hati.

Aku punya adik.. Mereka memang tidak membantu hanyak jika aku tersakiti oleh kalian. Tapi mereka adikku, penyemangatku, menumbuhkan gairahku untuk menendang bayangan kalian agar jauh dari hidupku.

Aku punya keluarga, yang siap sedia berjejer dibaris terdepan. Menghadang kalian untuk melukaiku. Ada kakekku, ada nenekku, ada tante dan om ku, ada saudara-saudaraku. Dan harus aku beri tahu ke kalian wahai pembenci, jangan main-main dengan mereka!

Oh.. Tidak sampai disitu.

Aku punya sahabat, sahabat yang senantiasa menghiburku ketika terluka, sedih, sakit. Maka jangan berusaha melukaiku selagi aku bersama mereka. Sebab tak ada gunanya. Mereka tidak hanya menghiburku. Kau tau.. Betapa sayangnya mereka kepadaku? Bahkan di antara mereka ada yang siap membantaimu jika kau berani melukaiku.

Maka jangan mengusikku, jangan menggangguku, melukaiku, semua akan sia-sia. Aku punya pertahanan.

Siapapun kamu. Baik kamu yang sirik dengan hidupku karena lebih berwarna dari hidupmu yang abu-abu mungkin. Atau kamu yang benci melihat wajahku yang mungkin bisa membuatmu sesak napas? Entahlah. Siapapun kamu. Jika berniat buruk padaku. Jangan mendekat. Aku tika. Iya aku tika.

Hujan dan rindu

Malam ini langit terlihat begitu hitam, gelap, tanpa taburan bintang yang biasanya bercengkrama dan menghiasi setiap langit malam, mungkin sebab dari hujan yang masih turun deras sampai saat ini. Hawa dingin ini membuat aku tiba-tiba mengundang dia untuk masuk ke otakku lagi.

Tidak jauh beda.. Rasanya malam ini sunyi senyap, tanpa tawa yang biasanya timbul dari hal-hal yang ia buat, sebenarnya tidak mengundang tawa, tapi aku hanya bahagia ketika harus membahas hal-hal basi bersamanya.

Tanpa kabarnya lagi. Rindu bermain lagi, rindu menjahiliku lagi.

Tidak masalah mungkin. Sebab akan lebih sesak, Ketika harus kenangan yang mengacak-acak malam ini.

Terimakasih telah membuatku menikmati rindu (lagi) malam ini. Tapi Jangan keseringan, bukan ‘aku tak akan kuat’ seperti kata dilan, tapi ‘aku akan kecanduan’, ya, itu kataku.

Tanyaku sederhana..

Entah pada siapa aku bertanya? Karena rumput yang bergoyang selalu bisu, tak punya jawab atas tanyaku

Tanyaku sederhana, namun bisa jadi rumit bila di jawab.

Aku masih disini. Menunggu datang pagi untuk membuat semua normal kembali.

Aku mencintai kebodohan sifat ini. Karena sebabnya aku menjadi lebih tenang. Meskipun aku tau itu sama sekali tidak baik

Menelusuri tiap-tiap ruang waktu. Melihat kesenangannya menatap tajam diriku, aku dengar mereka menuntutku, aku tau mereka membenciku karena aku tak memberi ruang untuk mereka.

Tapi aku tak peduli. Sebab mereka tidak bisa terus seperti itu. Menyampaikan pedih padaku disaat mereka berbahagia. Aku yakin, ini keegoisan terbaik.

Aku sadar

Ya maafkan saja jika aku tidak bisa bersikap lebih mengerti.

Maafkan saja tentang angin yang membawa aturan-aturanku yang selalu mengekangmu

Ya Maklumi saja dengan sikapku yang tida bisa lebih dewasa

Maklumi saja tentang air yang berarus mengalirkan pemikiran bodohku

Aku tau yang aku lakukan adalah salah, tapi yang terjadi bukanlah salahku.

Sebab kamu yang menciptakan luka, maka kamu terima duka

Sebab kamu mengundang perih, maka kamu terima pedih

Kamu memang kecewa, aku tau itu! Karena sebelumnya aku lebih dulu kecewa.

Aku tidak berbicara dendam, apalagi karma.

Aku tidak berbicara soal apa-apa. Jika kamu ingin mengartikan, maka artikan saja sendiri.

Jika kamu butuh petunjuk, mungkin aku bisa membantu. Ini hanyalah berbicara tentang apa akibatnya dari sebab yang buruk

Tibawa, 24 februari 2018.